Sabtu, 09 April 2011

1000 Tangga Tahura-Maribaya



Tahura atau dago pakar adalah salah satu wisata alam yang didominasi oleh pepohonan pinus yang sangat menyejukkan. Obyek wisata ini sangat ramai dikunjungi terutama saat liburan (Sabtu, Minggu). Obyek wisata yang menarik di tempat ini adalah Monumen Ir. H. Juanda, Gua Belanda dan Gua Jepang, PLTA (menampung air sungai Cikapundung untuk penghasil listrik), berbagai flora dan fauna serta 2 buah Curug (air terjun) yaitu Curug Dago dan Curug Omas.


Curug Dago
Tingginya sekitar 10 m dan letaknya berdekatan dengan Taman Budaya Provinsi Jawa barat (Dago Tea House). Dibandingkan dengan tempat-teman menarik lainnya di Tahura, Curug Dago paling jarang dikunjungi oleh para pengunjung. Letaknya 800 m dan di tempat ini tersimpan kisah masa lalu Kerajaan Thailand. Di dekat air terjunnya terdapat dua buah prasasti batu tulis peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) yang dulu pernah berkunjung ke tempat ini sekitar tahun 1818. 


Gua Jepang dan Gua Belanda
Ada 4 lubang masuk  ke dalam Gua Jepang yang mulut guanya saling berhubungan. Lorongnya sangat gelap tapi banyak yang menyediakan sewa senter sekitar gua dan ada guidenya juga. Diamater lubangnya lebih besar dibanding Gua Belanda. Gua Belanda menurut sejarahnya terbagi menjadi beberapa ruangan seperti ruang introgasi dan ruang penahanan serta ruang pos-pos pengintaian untuk pertahanan. Gua ini bisa menembus bukit menuju Maribaya Lembang.


Curug Omas
Curug ini tingginya sekitar 30 m yang masuk ke dalam kawasan Maribaya. Dengan melewati jalan setapak sekitar 5 km dari Gua Belanda kita bisa mencapai tempat ini. Di Curug Omas tersedia jembatan layang yang memudahkan kita untuk mengamati keindahan air terjun yang suaranya bergemuruh. Di sekitar curug banyak warung yang menyediakan makanan serta banyak juga kera-kera yang berkeliaran mengharapkan makanan dari pengunjung


Maribaya
Maribaya berasal dari nama seorang perempuan yang sangat cantik yang menjadi sumber kehebohan bagi kaum laki-laki.Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungnya sering cek-cok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah. Itulah gambaran keindahan Maribaya tempo dulu. Karena keindahannya, lokasi pamandian air hangat yang ada di tempat ini diabadikan dengan Maribaya. Keelokan pemandangan disertai desiran air terjun digambarkan bagai seorang gadis cantik jelita yang membuat setiap pemuda bertekuk lutut.
Sejak mulai dikembangkan tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, lokasi objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berekreasi menghirup udara segar alam pengunungan dan perbukitan, tetapi banyak juga yang berobat dengan cara berendam di air hangat.

Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Keluarga Maribaya memperoleh penghasilan dari para pengunjung yang datang berduyun-duyun.

Namun sayang yang terjadi saat ini, pemandian air panas Maribaya sudah tenggelam oleh keberadaan tempat pemandian air panas Sari Ater yang letaknya lebih strategis di jalan Bandung-Subang.



CATATAN PERJALANAN 9 April 2011



Perjalanan kali ini dilakukan bersama teman-teman BPC Bandung. Di depan Terminal Dago, aku bertemu dengan teman-teman yang awalnya hanya aku bisa lihat di facebook. Oya sahabatku Kei dan Funy juga ikut dalam perjalanan hari ini. Ternyata orang pertama yang kumpul di tempat meeting point pukul 06.45 adalah aku sendiri (aneh...biasanya aku selalu telat datang) lalu disusul oleh Om Hendi dan teman-teman lainnya.


Kumpul di depan Terminal Dago
Mencari Curug Dago
Mampir di sekolah alam


Baru pukul 08.00 setelah semua berkumpul sekitar 16 orang, perjalanan dimulai. Tujuan pertama adalah melihat keindahan Curug Dago. Kami melewati kampus kesayangan Kei dulu di Universitas Padjajaran. Terlihat wajah terharu pada Kei saat ia menemukan kembali masa lalunya yang telah berlalu dengan menyimpan begitu banyak kenangan sampai-sampai ia menceritakan banyak kenangan yang ia alami dan ia ingin sekali kuliah kembali seperti dulu (apa kamu yakin Kei? mau sekolah lagi....??).


Foto dulu sebelum menuju ke Curug Dago
Kebetulan dari kami belum ada yang tahu dimana letak tepatnya Curug Dago tersebut maka kami bertanya ke penduduk setempat dan akhirnya berhasil. Ternyata selain ada air terjun yang indah, di tempat itu juga terdapat 2 buah bangunan berwarna merah yang ciri khas bangunannya seperti bangunan di Thailand. Bangunan ini menyimpan batu tulis untuk mengenang Raja Thailand yang pernah berkunjung ke tempat ini. Untuk menuju ke tempat ini, kami harus menuruni beberapa anak tangga tapi untung tidak terlalu licin meskipun basah anak tangganya.


Curug Dago
Prasasti Raja Thailand
Setelah puas menikmati dan berfoto ria, perjalanan dilanjutkan menuju ke PLTA yang berada di dekat TAHURA tapi sayang di PLTA kami tidak diijinkan untuk mengambil foto dengan menggunakan kamera yang besar. Lalu kami selanjutnya diajak menuju masuk ke Tahura. Om Hendi memilihkan jalur yang sangat menantang yaitu menyusuri anak-anak tangga yang banyak yang aku tak sempat hitung berapa kira-kira jumlahnya jadi anggap aja melewati 1000 anak tangga (biar keren ...hahaha). Perjalanan menyusuri 1000 anak tangga ini memang sangat menguras tenaga kami sampai-sampai ada yang katanya jadi parno melihat tangga naik tapi kalau tangga turun tidak masalah katanya (siapa itu ya???). Akhirnya meskipun sangat banyak menguras tenaga menyusuri 1000 anak tangga tersebut, kami semua berhasil. Awalnya kami berhasil masuk ke Tahura tanpa harus melewati pos pembayaran tiket masuk. Tapi akhirnya ketahuan sama penjaganya sehingga ia meminta kami untuk membayar tiket masuk dulu   Rp.5.000 ( yo wis....bayar...tadi kan ga ada juga penjaga tiketnya di gerbang masuk...hehehe).


PLTA
Menaiki 100 tangga
Saat masuk kawasan Tahura ternyata lagi ramai-ramainya, banyak anak-anak SMA dan pertunjukkan dangdut (kirain penyanyinya Geisha...eh ternyata salah...padahal aku sudah lari cepat-cepat mau lihat  Geisha manggung). Sambil menunggu teman-teman yang lain datang, aku beli es potong dulu Rp. 1000 rasa alpukat (emmm...manis dan seger...smoga ga sampai membuat sakit tenggorokan setelahnya). Tujuan selanjutnya di Tahura adalah mengunjungi Gua Jepang. Kami masuk ke Gua Jepang dengan peralatan senter seadanya. Kemudian dilanjutkan menuju ke Gua Belanda.


Pertunjukan dangdut di Tahura
Setelah melewati Gua Belanda, kami melanjutkan langkah kaki menuju tujuan utama yaitu Maribaya. Medan menuju ke Maribaya tidak terlalu sulit dan cenderung datar. Pukul 12.00 kami sempat istirahat di perjalanan, membeli makanan untuk mengganjal perut yang lapar. Selama perjalanan teman-teman juga ikut memunguti sampah-sampah yang berserakan di sepanjang jalan. Aku cuma memungutinya beberapa saja karena pusing jongkok bangun jongkok bangun.


Petunjuk arah menuju Gua Jepang dan Gua Belanda
Aku, Kei, Funy, Yanstri dan Uli malanjutkan perjalanan terlebih dahulu di depan karena teman-teman yang lain masih asyik makan di warung. Sempat hujan juga selama perjalanan namun untung tidak besar dan tidak lama. Setelah semua tim berkumpul, kami pun menuju ke Curug Omas. Di atas Curug tersebut terbentang jembatan layang yang bergoyang-goyang dan disarankan bila melewati jembatan tersebut maksimal 5 orang dulu. Kami pun akhirnya foto keluarga di atas jembatan yang membentang di atas Curug Omas. Curugnya keren lho...


Curug Omas
Menaiki jembatan goyang
Berpose di atas Jembatan Curug Omas
Foto Keluarga
Pukul 13.00 kami beristirahat lesehan di Maribaya menikmati makanan dan ada juga yang membeli mie rebus, teh dll untuk makan siang sambil mengobrol mempererat tali pertemanan sekaligus sharing pengalaman. Kami juga merencanakan trip perjalanan selanjutnya. Sekitar pukul 15.00 kami memutuskan untuk pulang. Aku, Funy, Kei dan 2 orang teman lainnya memutuskan untuk berpisah dari rombongan karena rombongan berencana balik lagi ke Tahura agar tidak perlu bayar tiket keluar di Maribaya sedangkan kami mau pulang lewat gerbang Maribaya aja meskipun harus membayar tiket lagi.


Berunding dan Istirahat
Berpose di tugu
Aku dan teman-teman yang lain keluar dari pintu gerbang Maribaya 2 dengan membayar tiket keluar Rp 3000 hasil nego dan diskon dengan penjanganya (aneh ada tiket keluar juga ya?). Di sana ternyata ada air terjun yang cukup besar arusnya dan indah sekali yang disbut dengan Curug Maribaya. Di pintu gerbang Maribaya 2 datanglah aa Erik (suaminya Funy) yang siap menjemput Funy. Saat menuju pulang, di dekat pintu gerbang Maribaya 1, kami berpapasan dengan rombongan yang lain (lho kok...katanya mau balik ke Tahura). Saat kami singgah di Tahu Tauhid kami berpapasan lagi dengan mereka (yaelah...berjodoh sekali). Sebelum pulang ke Bandung, kami mampir di sekolahnya Erik terlebih dahulu karena Erik masih ada urusan penting. Setelah itu barulah langsung ke Bandung lewat jalur Parongpong karena kalau lewat jalur Setiabudi menurut Erik pasti macet banget akhir pekan seperti sekarang.


Kolam Putri Duyung Maribaya
Curug Maribaya
Gerbang 2 Maribaya
Nunggu jemputan
Beli tahu


Cuplikan yang sayang dibuang:
Gwen dan Sule

Kei lagi menggoda ABG


5 komentar: